SEKILAS INFO
: - Sabtu, 07-12-2019
  • 1 bulan yang lalu / Juara 2 Film Indie Nasional OlympicAD
  • 1 bulan yang lalu / Juara 3 Robotik Nasional OlympicAD
  • 2 bulan yang lalu / Telah dibuka pendaftaran peserta didik baru Tahun Ajaran 2020/2021 pada 1 Oktober – 20 Desember 2019, Kuota Hanya 4 kelas
Santri Berpeci

Oleh: Mohamad Mujamil, S.PdI

Menurut Ikhsan Rasyid pada buku sarung dan demokrasi, pakaian mampu menampakkan perbedaan seseorang dengan orang lain, hingga akhirnya dapat dikelompokkan pada kelompok tertentu. Bahkan dari pakaian akan diketahui dan terlihat kewibawaan pada pakaian yang melekat. Bagian dari berpakaian adalah penutup kepala yang digunakan oleh laki-laki. Blangkon bagi laki-laki jawa, Recca bagi masyarakat Bone (Sulawesi Selatan), Meukutop bagi masyarakat Aceh, Kuluk untuk kaum priyayi, dan lainnya. Secara sejarah, peci memiliki spekulasi yang beragam. Ada versi dari perjalanan saudagar Arab, Laksamana Cheng Ho, Sunan Giri, hingga Sunan Kalijaga.
Secara resmi kenegaraan, peci telah diatur secara jelas pada Peraturan pemerintah No 16 Tahun 1949 tentang aturan resmi pakaian kepala pemerintahan. PP tersebut dikeluarkan oleh Presiden pertama Indonesia, yaitu Ir. Soekarno. Secara Internasional, peci juga biasa dipakai oleh Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam. Berkaca dari sejarah masuknya Islam ke Indonesia melalui para saudagar Arab, Abad ke-13, peci sudah ada.
Tepat tahun pelajaran 2019-2020, siswa SMP Birrul Walidain Muhammadiyah menggunakan peci berdampingan dengan rutinitas seragam sekolah. Sehingga aktivis harian, terlihat para siswa berpeci di ruang kelas, di perpustakaan hingga di aula yang sering dimanfaatkan untuk shalat. Dilihat dari kerapian, berpeci terlihat lebih rapi daripada siswa yang tidak berpeci. Karena tidak berpeci menuntut kerapian yang sering, bisa sering bersisir rambut maupun sering menatap cermin. Dengan kata lain, siswa berpeci elok dipandang.
Secara perspektif kenegaraan, berpeci menjadi kewajiban tersendiri, disamping adanya aturan Peraturan Pemerintah yang mengikat. Sehingga pemimpin bangsa ini akrab dengan peci. Bahkan foto para pemimpin bangsa ini selalu berpeci yang sering tertempel di kantor pemerintahan dan instansi sekolah. Dengan kata lain, berpeci adalah ciri khas pemimpin. Dengan kebiasaan berpeci sedini mungkin, semoga lahir sosok pemimpin yang lahir dari rahim sekolah ini. Karena budaya menjadi pemimpin butuh perjuangan yang intensif dan berkelanjutan.
Kebiasaan berpeci adalah habit yang mengandung sisi positif. Lahirnya kebijakan berpeci merupakan bagian yang positif di lingkungan sekolah. Karena menjadi tugas mulia sekolah adalah membiasakan hal-hal positif. Siswa akan terbiasa ketika bepergian ke masjid untuk berjamaah tidak menanggalkan penutup kepala mereka. Selain itu, siswa secara tidak langsung terbiasa berjamaah di masjid dan terbiasa hadir di suatu majelis ilmu. Tujuan pamungkas dari gerak langkah ini adalah siswa akan terbiasa dalam rel-rel kebaikan. Aamiin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masuk untuk bisa menulis komentar.

Pengunjung

044524
Total views : 167251
Who's Online : 5
Your IP Address : 34.225.194.144

Pengumuman

Pendaftaran Peserta Didik Baru Tahun Ajaran 2020/2021

Kemah Calon Dewan Pasukan HW

Masuk Pertama Tahun Ajaran 2019 – 2020

Arsip